Strategi Honda Lawan Mobil China 2026: Tinggalkan Target Full EV, Fokus ke Hybrid
- account_circle Elevasi News.id
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Cakdan
Honda akhirnya menyerah. Setidaknya, mereka menyerah untuk satu hal: mimpi menjadi merek mobil full listrik pada tahun 2040. Target tersebut resmi dicabut langsung oleh sang CEO global, Toshihiro Mibe, dalam pertemuan bisnis hari ini. Kalimatnya sederhana namun menohok: “Tidak realistis lagi”. Dengan keputusan ini, napas mesin bensin dipastikan masih panjang, dan teknologi hybrid kini justru maju sebagai penyelamat.
Keputusan strategis ini sangat menarik, apalagi datang di saat pasar otomotif Indonesia sedang berubah dengan sangat cepat. Mobil-mobil asal China mulai mengacak-acak peta persaingan lama, membuat Honda yang dulu nyaman di papan atas kini mulai terdesak. Data wholesales Gaikindo pada April 2026 menujukkan realitas yang keras; Honda merosot ke posisi ke-9 nasional dengan penjualan tinggal 2.363 unit—nyaris keluar dari sepuluh besar. Bandingkan dengan BYD yang melesat di angka 4.625 unit, atau Jaecoo dengan 3.219 unit. Ancaman itu nyata dan sedang terjadi saat ini, bukan lagi sekadar prediksi masa depan.
Padahal, Honda dulu adalah rajanya mobil rakyat perkotaan. Lewat lini produk seperti Brio, HR-V, hingga CR-V, merek ini selalu identik dengan gaya hidup anak muda. Namun kini selera pasar telah bergeser. Konsumen tidak lagi hanya mencari reputasi merek, melainkan teknologi, efisiensi, dan sensasi berkendara yang baru. Sadar akan pergeseran tersebut, Honda langsung membelokkan arah setir mereka: bukan lagi mengejar full EV, melainkan fokus pada hybrid.
Rencana Jangka Panjang dan Amunisi Baru Honda
Sebagai langkah konkret, Honda bersiap meluncurkan 15 model hybrid generasi baru hingga Maret 2030. Meski fokus utamanya adalah pasar Amerika Utara, efek domino dari strategi ini dipastikan akan terasa secara global, termasuk ke Indonesia. Mulai tahun 2027, Honda akan mengadopsi platform, mesin, dan sistem hybrid baru, termasuk sistem AWD elektrik yang mutakhir. Melalui pembaruan ini, efisiensi bahan bakar ditargetkan naik lebih dari 10 persen, sementara biaya produksi sistem hybrid ditekan hingga 30 persen dibanding sistem tahun 2023.
Tidak hanya sektor mesin, Honda juga menyiapkan ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) generasi terbaru mulai tahun 2028. Bukan sekadar adaptive cruise control biasa, sistem ini nantinya mampu membantu pengendalian setir, akselerasi, hingga navigasi dari titik awal sampai tujuan, baik di jalan tol maupun jalan biasa. Singkatnya, Honda ingin menyajikan pengalaman berkendara ala EV tanpa bayang-bayang kecemasan mencari tempat pengisian daya (charging anxiety).
Strategi beralih ke hybrid ini terasa sangat masuk akal karena pasar global ternyata belum siap sepenuhnya untuk EV murni. Toshihiro Mibe mengakui bahwa lingkungan bisnis berubah terlalu cepat dan permintaan EV tidak setinggi prediksi awal dekade 2020-an. Akibat memaksakan idealisme tersebut, Honda harus membayar mahal. Mereka mencatat kerugian terkait EV sebesar 1,579 triliun yen (sekitar Rp268,4 triliun), yang berujung pada rugi operasional perusahaan sebesar 414,3 miliar yen (sekitar Rp70,4 triliun)—salah satu kerugian terbesar dalam sejarah Honda.
Realistis dan Memangkas Biaya demi Bertahan Hidup
Dampaknya, banyak proyek EV yang akhirnya dibatalkan secara massal, mulai dari Honda 0 Sedan, Honda 0 SUV, Acura RSX listrik, hingga dua proyek Afeela bersama Sony yang terpaksa mati sebelum berkembang. Honda kini memilih bersikap realistis dengan tidak membunuh mesin bensin. Hybrid dijadikan jembatan panjang menuju target netral karbon tahun 2050. Artinya, Honda melihat dunia—terutama negara berkembang seperti Indonesia—belum siap meninggalkan bensin sepenuhnya akibat infrastruktur charging yang masih timpang, kekhawatiran umur baterai yang tinggi, serta nilai jual kembali yang belum stabil.
Langkah hybrid sebagai jalan tengah ini sebetulnya sudah dibuktikan oleh kompetitor abadi mereka. Di Indonesia, Toyota Veloz Hybrid langsung melesat masuk lima besar nasional pada April 2026 dengan penjualan 3.262 unit, menyusul Kijang Innova Hybrid yang juga masih perkasa. Honda tidak boleh terlambat lebih jauh karena lawan mereka sekarang bukan cuma Toyota, melainkan agresivitas merek China seperti BYD, Jaecoo, Geely, hingga Denza yang mulai merangsek stabil di 20 besar nasional.
Perang berikutnya bukan lagi soal gengsi merek, melainkan kecepatan membaca pasar. Oleh karena itu, investasi Honda berubah total. Selama tiga tahun hingga 2029, investasi untuk EV dipangkas menjadi hanya 0,8 triliun yen (Rp136 triliun). Sebaliknya, investasi untuk sektor hybrid dan mesin bensin diguyur dana masif hingga 4,4 triliun yen (Rp748 triliun), ditambah alokasi sektor software sebesar 1 triliun yen. Total investasi tiga tahun Honda mencapai 6,2 triliun yen atau sekitar Rp1.054 triliun.
Untuk mengimbangi biaya tersebut, Honda menerapkan strategi efisiensi ekstrem bernama “Triple Half”:
- Memotong biaya pengembangan hingga setengahnya,
- Memangkas waktu pengembangan menjadi setengahnya, dan
- Mengurangi beban kerja pengembangan hingga setengahnya.
Penggunaan AI akan dioptimalkan secara besar-besaran, platform dibuat makin seragam, serta komponen antar-model akan disamakan hingga lebih dari 60 persen. Tujuannya sederhana: menghasilkan mobil yang murah dan cepat guna menandingi pergerakan pabrikan China yang sangat agresif. Bahkan, Honda kini mulai memakai banyak komponen lokal dari China dan India demi menekan biaya—sesuatu yang dulu tabu dilakukan oleh pabrikan Jepang.
Pada akhirnya, dunia memang sudah berubah dan Honda memilih untuk bertahan hidup terlebih dahulu ketimbang memaksakan idealisme EV. Di Indonesia, strategi hybrid ini tampaknya justru akan sangat cocok. Konsumen lokal belum sepenuhnya siap meninggalkan bensin, tetapi sudah mulai tertarik pada teknologi elektrifikasi. Hybrid menjadi zona aman: tidak perlu repot charging, tidak takut antre di SPKLU, namun tetap irit dan modern. Honda tampaknya baru membaca peluang itu dengan sangat serius sekarang. Apakah mereka terlambat? Mungkin belum, tetapi waktu yang mereka miliki jelas tidak banyak lagi.
Sumber : FB Danang Arradian
- Penulis: Elevasi News.id

Saat ini belum ada komentar