Mentan Amran: Dulu Kekurangan, Kini Indonesia Surplus dan Ekspor Pupuk ke Berbagai Negara
- account_circle Elevasi News.id
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Elevasinews.id, BONTANG – Indonesia mencatatkan tonggak sejarah baru dalam transformasi industri pupuk nasional. Melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Pupuk Kalimantan Timur, Indonesia resmi memulai ekspor perdana pupuk urea ke Australia dengan total nilai komitmen mencapai Rp7 triliun.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meninjau langsung pelepasan ekspor tersebut di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (14/5/2026). Langkah ini menandai pergeseran status Indonesia dari negara yang sempat terkendala pasokan menjadi negara dengan surplus produksi yang kompetitif secara global.
Tahap Awal dan Ekspansi Pasar Global
Ekspor perdana yang dilepas mencapai 47.250 ton senilai kurang lebih Rp600 miliar. Ini merupakan bagian dari kerja sama skema government-to-government (G2G) dengan total komitmen 250.000 ton, yang diproyeksikan akan terus meningkat hingga 500.000 ton.
”Rencana kita akan ekspor 250.000 ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500.000 ton. Ini membuktikan daya saing industri kita semakin kuat,” ujar Mentan Amran.
Tak hanya Australia, pemerintah kini membidik negara-negara strategis lainnya seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh. Mentan mengungkapkan bahwa India bahkan telah meminta pasokan sebesar 500.000 ton urea secara langsung.
Dampak Kebijakan Strategis Presiden Prabowo
Keberhasilan ekspor ini disebut sebagai hasil dari tangan dingin Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola pupuk nasional dari hulu ke hilir. Beberapa langkah revolusioner yang diambil di antaranya:
- Peningkatan Alokasi Subsidi: Mengembalikan volume pupuk bersubsidi dari 4,55 juta ton menjadi 9,55 juta ton.
- Penurunan Harga: Memangkas harga pupuk bersubsidi sebesar 20% tanpa membebani APBN.
- Deregulasi Massal: Memangkas 145 aturan lintas kementerian demi mempercepat distribusi langsung ke petani (Kementan–PIHC–Gapoktan–Petani).
- Efisiensi Anggaran: Menghapus inefisiensi seperti PPN berganda dan beban bunga bank, yang diproyeksikan menghemat Rp14 triliun.
Modernisasi dan Kemandirian Industri
Di sisi hulu, pemerintah mendorong revitalisasi industri pupuk melalui tujuh proyek strategis dengan investasi Rp72,84 triliun. Penggantian pabrik lama dengan teknologi baru yang lebih efisien berhasil menekan biaya produksi hingga 26%.
Beberapa proyek mercusuar yang telah berjalan meliputi:
- Groundbreaking Pabrik NPK Nitrat di Cikampek (Desember 2025).
- Revamping Pabrik Amoniak PKT-2 di Bontang (Januari 2026).
- Pengembangan proyek Methanol nasional di Aceh dan Bontang senilai USD1,8 miliar.
Melalui reformasi ini, pemerintah optimistis dapat menghemat subsidi pupuk hingga Rp112 triliun hingga tahun 2035.
”Pupuk bukan hanya soal produksi dan distribusi. Pupuk adalah instrumen strategis menuju kedaulatan pangan nasional,” tegas Mentan Amran menutup pernyataannya. (*)
- Penulis: Elevasi News.id

Saat ini belum ada komentar