Dari Bogor Guncang Dunia: Kisah Marzuki Darusman, Singa Hukum yang Ditakuti Diktator Korea Utara hingga Sri Lanka
- account_circle Elevasi News.id
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Elevasinews.id,– Di panggung diplomasi internasional, kita sering kali melihat Indonesia bermain aman. Menggunakan prinsip politik luar negeri “bebas aktif”, negara kita kerap mengambil posisi sebagai jembatan perdamaian, penengah yang santun, atau pencari jalan tengah yang netral. Namun, di tengah kultur diplomasi yang serba hati-hati itu, ada satu nama yang mendobrak pakem: Marzuki Darusman. Pria kelahiran Bogor, 26 Januari 1945 ini adalah antitesis dari diplomasi “asal bapak senang” di level global.
Bagi generasi 90-an, nama Marzuki mungkin lekat dengan jabatannya sebagai Jaksa Agung RI (1999–2001) di era Presiden Gus Dur. Kala itu, ia adalah sosok nyali besar yang memenjarakan koruptor kelas kakap seperti Bob Hasan, membatasi ruang gerak mantan Presiden Soeharto, hingga menyeret jenderal militer ke pengadilan atas kasus pelanggaran HAM di Timor Timur dan Aceh. Karena keberaniannya, ia sempat menjadi orang nomor tiga yang paling dijaga ketat di Indonesia.
Namun, signifikansi seorang Marzuki Darusman melampaui batas-batas hukum domestik. Ketika ia melangkah ke panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dunia menyaksikan bagaimana seorang putra bangsa mampu membuat gentar rezim-rezim paling kejam dan tertutup di bumi.
Ketika Kebenaran Lebih Ditakuti daripada Peluru
Pada tahun 2010, saat ditunjuk memimpin Panel Ahli PBB untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang dalam Perang Saudara Sri Lanka, Marzuki tidak memilih jalan kompromi. Laporan investigasinya begitu tajam dan telanjang membongkar borok pelanggaran kemanusiaan oleh pemerintah setempat.
Respons dari pihak yang terusik sangat masif: Marzuki dicekal masuk ke Sri Lanka, dan patung dirinya dibakar oleh massa di jalanan kota Colombo. Bagi sebagian orang, ini adalah ancaman psikologis yang menakutkan. Namun bagi Marzuki, itu adalah konfirmasi bahwa kebenaran yang ia tulis telah menghantam tepat di jantung kekuasaan yang korup.
Keberanian serupa ia tunjukkan saat menjadi Pelapor Khusus PBB untuk HAM di Korea Utara (2010–2016). Menghadapi negara nuklir yang dipimpin oleh dinasti diktator totalitarian bukan perkara mudah. Banyak diplomat memilih kata-kata bersayap demi keselamatan. Tidak dengan Marzuki.
Saat ia membacakan laporan pelanggaran HAM rezim Pyongyang pada Maret 2012, atmosfer sidang PBB mendadak mendidih. Delegasi Korea Utara yang dipimpin So Se-pyong mengamuk, mencaci laporan tersebut, dan melakukan aksi walk-out yang berujung pada keributan fisik. Di tengah badai intimidasi dari salah satu rezim paling berbahaya di dunia itu, Marzuki tetap duduk tenang. Ia tidak bergeser satu inci pun dari kursinya, memberikan gestur berkelas bahwa kebenaran tidak bisa digertak oleh amukan politik.
Diplomasi Bernyali yang Mulai Langka
Rekam jejak Marzuki—yang juga mencakup pembongkaran genosida etnis Rohingya di Myanmar pada 2017 hingga penyelidikan pembunuhan PM Pakistan Benazir Bhutto—adalah sebuah anomali yang menyegarkan. Lahir dari ayah seorang diplomat (Suryono Darusman) dan tumbuh besar di Eropa, Marzuki bisa saja memilih hidup nyaman sebagai elite global. Namun, ia memilih menggunakan privilese dan intelektualitasnya untuk menyuarakan mereka yang tak bisa bersuara.
”Marzuki Darusman adalah bukti hidup bahwa integritas seorang diplomat tidak diukur dari seberapa sering ia tersenyum di depan kamera, melainkan dari seberapa tegak ia berdiri saat badai intimidasi datang.”
Melalui lembaga yang ia dirikan, The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), Marzuki hari ini masih terus berupaya menyemaikan benih keberanian itu kepada generasi muda.
Kisah Marzuki Darusman adalah tamparan sekaligus refleksi bagi generasi hari ini. Di era di mana banyak orang memilih bungkam demi mengamankan posisi, atau sibuk mencari validasi di media sosial, Marzuki menunjukkan apa arti “nyali” yang sesungguhnya. Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi kita krisis orang berani. Dan dari seorang putra Bogor yang patungnya dibakar di Sri Lanka serta membuat delegasi Korea Utara mengamuk, kita belajar: menjadi dihormati di dunia bukan karena kita tunduk pada kekuatan besar, melainkan karena kita berani menantangnya demi kemanusiaan.
Sumber : wikipedia
- Penulis: Elevasi News.id

Saat ini belum ada komentar